28 Juli 2010

Protes Kecil Suara Awam


Hey!! kau yang disana. Apa yang kau lakukan? Dibalik meja bundar atau persegi yang mengilat. Dibalut kemeja kotak-kotak ataupun bergaris vertikal berdasi. Luaran yang cukup membuat awam meneteskan liur. Meski sejatinya awamlah yang membuatmu berada dibalik meja bundar dan persegi mengilat, berbalut kemeja kotak-kotak maupun bergaris vertikal berdasi. Tidakkah kau ingat???

***





__________

Tulisan kecil untuk para penguasa.

Lihat, tataplah kembali negerimu dengan hati.





Fajar di Ufuk Timur


Semburat cahaya memancar, mempesona, disana, di ufuk timur

Bersegeralah basuh mimpi semalam, dengan wudhu’

Bersama, mengawali hari bersama sang fajar

***


23 Juli 2010

Saat Terjatuh


Adakalanya kau jatuh, tersungkur dalam ketidakberdayaan

Karena jalan hidup tak selalu lurus dan mulus

Tapi kadang berbelok berlobang

Dan saat terjatuh, aku tahu apa yang kau butuh

Uluran Tangan…

Uluran tangan untuk berbagi semangat

Membantumu bangkit, untuk kembali melangkah

Dan bersiap, melenting lebih tinggi


***






Little note:
Tak bisa memungkiri, bahwa ada masanya manusia itu rapuh.
Semoga tulisan kecil ini bisa menginspirasi





14 Juli 2010

Jadilah Pelindung Baginya


Dia mudah rapuh, namun dia adalah sumber kekuatan
Dia mudah terenyuh, namun dia sipemilik ketegaran
Dia mudah meneteskan air mata, namun dialah penebar senyum dan tawa
Dia yang mempesona, namun berhati-hatilah dengan tipu dan godaannya
Dia laksana mutiara, memancarkan binar sinar
Karena akhlak dan budi pekertinya
Namun dia juga bisa jadi petaka, kelam akan cahaya
Tersesat dalam guliran waktu karena nafsu dan tingkahnya
Dia bisa membuatmu menjadi Putih namun juga bisa sebaliknya
Jika kau menemukannya, menemukan Dia yang laksana mutiara
Bening laksana permata penebar cahaya
Meski kau temukan dalam ruang kelam sekalipun, maka jagalah ia
Jadilah pelindungnya

***


Tentang Galang


Brakkk...! ! !

Pecahan cermin itupun berserakan di lantai. Darah segar mengalir dari punggung tangannya yang kokoh dan satu persatu tetesan cair berwarna merah itu menetes di sela-sela jarinya. Urat-urat wajahnya menegang menahan amarah dan rasa sakit, terasa bagai duri tajam menusuk-nusuk ulu hatinya. Sangat perih!!!

Satu jam yang lalu sepulang dari kampus saat dia berjalan menyusuri trotoar menuju kontrakannya, kontrakan yang berupa kamar kecil berukuran 3 x 3 m. Satu tempat tidur lusuh terdapat di sudut ruangan. Sebenarnya tempat tidur itu tidak lagi layak, karena gumpalan kapas di dalamnya yang sudah menipis jauh dari rasa nyaman ketika badan direbahkan di atasnya. Tapi karena rasa lelah, dia tetap bisa melewati malamnya dengan mimpi. Keadaan yang sudah tiga tahun ini dia jalani.

Sebuah cermin kecil menempel di dinding menghadap ke tempat tidurnya. Satu buah lemari pakaian kecil merangkap meja belajar dengan satu buah bangku kayu usang terletak di samping tempat tidur menghadap ke jendela. Tidak ada laptop ataupun monitor komputer disana, sebagaimana layaknya mahasiswa-mahasiswa lain di sekitar tempat kontrakannya.

Setiap malam, di bangku kayu itulah ia biasanya duduk berlama-lama sebelum kantuknya datang. Di bangku kayu itu dia akan melepaskan rasa penat di persendian dan pikirannya. Dari sana ia bisa bebas memandang keluar, menatap langit malam yang tenang. Bebas berangan-angan dan membentangkan impian. Disanalah ia akan menyirami bibit-bibit semangat dalam hatinya. Dia tidak akan menyerah, tak kenal kata menyerah. Dia tidak mau menyerah pada keadaan, meskipun sulit. Dia percaya dengan semangat dan keyakinannya, bahwa dia mampu melewati semua. Dia akan meraih impiannya. Dia tak akan berhenti berjuang meraihnya. Itulah yang selalu ada dalam benaknya, terpatri di sanubarinya. Dia ingin membuat ibu bapaknya bangga. Dia ingin buktikan, anak kampungpun bisa meraih impiannya.

Dia sadar, dia hanyalah anak kampung biasa yang miskin. Tak ada satupun harta benda berharga yang dimiliki keluarganya, tak ada sepetak sawahpun yang dapat mereka banggakan untuk diolah. Rumahnya pun sudah reot dengan atap yang mulai bocor disana-sini. Di rumah itu, ada Ibu dan Bapaknya yang tua renta. Mereka tak bisa memberikan kemewahan sedikitpun kepada anak-anak laki-laki semata wayangnya. Dapat mencukupi makan sekali sehari saja mereka sudah sangat bersyukur.

Beruntung, anak laki-lakinya memiliki otak yang luar biasa cerdas. Namanya Galang. Dialah harapan satu-satunya yang dapat merubah nasib keluarga. Anaknya tak pernah merasakan bersekolah di TK atau mengecap bagaimana rasanya belajar sambil bermain di Play Group. Dia langsung duduk di Kelas 1 Sekolah Inpres satu-satunya yang ada di kampung itu. Sekolah yang jauh dari fasilitas-fasilitas. Jangan diharap sekolah itu berlantai keramik. Lantainya adalah lantai papan dengan atap rumbia. Sekolah satu-satunya yang mereka banggakan.

Anak laki-lakinya adalah anak yang pertama mendaftar di sekolah itu. Dengan pakaian seadanya, tanpa sepatu, atau sekedar sandal butut pengalas kaki ketika mendaftarkan anaknya di SD impres yang dibanggakan orang kampung. Sejak pertama mulai belajar di sekolah itu, sudah terlihat kepintaran dari Galang. Dia selalu terdepan dalam mata pelajaran apapun. Membuat tercengang guru-guru pengajarnya. Sampai-sampai Pak Muhsin salah seorang gurunya berniat untuk membiayai pendidikannya sampai tamat. Air segar bagai mengalir di kerongkongan kering Ibu Bapak yang tua renta itu. Mereka tidak perlu lagi merasa cemas bagaimana mengusahakan biaya pendidikan untuk Galang. Dia akan mendapatkan pendidikan yang lebih baik melalui tangan seorang pak guru berhati mulia. Sebenarnya, jauh di lubuk hati guru agama tersebut, beliau merasa sangat prihatin dengan keadaan keluarga Galang. Beliau tidak sampai hati membiarkan anak dengan otak sebrilian Galang harus menjadi kuli upahan pula nantinya. Dan guru agama itu yakin, suatu hari nanti Galang akan mampu memberikan sesuatu yang berarti untuk membangun bangsa. Paling tidak, memberikan suatu perubahan berarti di kampungnya kelak.

Galang sadar betul dengan keadaan Ibu Bapaknya. Dia tidak pernah menuntut apapun. Dia tidak pernah minta dibelikan ini, mau disediakan itu, sebagaimana anak-anak lain sebayanya di kampung itu yang bisa merengek-rengek pada orangtuanya. Galang terlahir prematur, proses kelahirannya dibantu seorang dukun dari kampung sebelah. Pertama kali lahir ke dunia tak ada tangis yang keluar dari bibirnya. Sempat kecemasan yang teramat sangat menghinggapi hati Ibu Bapaknya. Tapi ternyata sekarang dialah yang mampu menjadi penerang bagi kedua orangtuanya. Pengobat rasa letih dan penat setelah mereka berkuli seharian. Subhanallah...

Dengan bermodalkan otaknya yang cerdas dan bantuan dari pak Muhsin, sekarang ia bisa mengecap pendidikan sampai di perguruan tinggi di kota ini. Walaupun gurunya itu sudah meninggal setahun yang lalu karena penyakit gula yang dideritanya, Galang tetap bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi ini berkat beasiswa yang diperolehnya. Bersyukur Galang bisa mendapatkan beasiswa sampai menamatkan kuliah. Sedikit rasa khawatirnya terobati. Dan sekarang, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari di Jakarta, dia mencari tambahan dengan bekerja sambilan di salah satu toko reparasi elektronik di dekat kontrakannya, dia berusaha agar dapat membayar kontrakan, sekadar mencukupi makan, atau untuk membuat tugas-tugas dan melengkapi diktat kuliah.

Ups!!! Diktat kuliah..

untuk hal yang satu ini Galang sangat bersyukur, dia memiliki sahabat yang memiliki hati bagaikan malaikat. Dialah yang selalu membantu Galang. Dialah yang memberikan pertolongan di saat Galang membutuhkan. Terutama dalam membuat tugas atau resume-resume yang diberikan dosen. Karena memang Galang tidak memiliki fasilitas yang dibutuhkannya. Galang tidak punya komputer.

Kepintaran Galang tak ada tandingannya di kampus. Teman-teman sejurusannyapun mengakui hal itu. Apalagi kalau sudah masuk mata kuliah praktek dan berkutat di labor. Galang tidak pernah merasa tinggi hati dengan kepintaran yang dimilikinya. Dia tidak sombong dan juga tidak membanggakan diri. Dia justru merupakan sosok yang pendiam, sederhana namun ramah pada siapapun. Dia akan merasa senang sekali ketika bisa membantu orang lain. Terutama sahabatnya.

Namanya Gina. Gadis manis satu jurusan dengan Galang. Sudah hampir tiga tahun ini mereka bersahabat. Saat Galang mengalami kesulitan Gina selalu membantu, dan begitupun sebaliknya. Gina sering meminjamkan laptopnya untuk Galang. Betapa tidak, ayahnya adalah seorang pengusaha sukses. Apapun keinginan Gina dengan mudah dapat dipenuhi.

Namun sepulang dari kampus siang itu, secara tidak sengaja Galang melihat Gina tidak jauh dari trotoar yang dilaluinya di persimpangan beberapa meter dari kontrakannya. Gina berdiri membelakangi Galang, punggungnya disandarkan pada Jazz hitam metaliknya. Galang mendekati secara perlahan, dia hendak memberi kejutan pada sahabatnya itu. Tinggal beberapa langkah lagi ia sampai ke tempat Gina berdiri.

“Gue memang beruntung bisa deket ma tu cowok. Sejak gue temenan ma dia, nilai-nilai gue ikutan naik, belum pernah nilai-nilai gue sebagus ini. Sampai-sampai bokap gue terkaget-kaget. Gue sih nyengir aja. Malah libur semester besok gue dikasih liburan ke Ausie. Hehe... Sebenarnya awalnya gue g’ suka ngeliat tu cowok. Tampangnya culun, norak, kampungan. Ih.. g’ banget. Seumur hidup gue baru kali ini gue temenan sama orang kelas bawah kayak gitu. Untung aja dia punya otak encer. Kalo gak, gak ada niat gue temenan ma dia.” Deg!!! Galang merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia gak yakin dengan apa yang barusan didengarnya dari mulut sahabatnya yang selama tiga tahun ini menemaninya. Dia berharap cowok yang disebut-sebut itu bukanlah dirinya.

“Dasar lo tu ye!!! Tapi hati-hati lo, ntar kemakan omongan sendiri. Tapi terus terang, gue jadi prihatin ama tu anak.” kali ini ada suara cewek lain yang menimpali. Galang tidak bisa melihatnya secara jelas karena posisinya yang membelakangi Galang dan tertutup dengan kaca hitam jazz metalik milik Gina. Tapi dari suaranya dia yakin itu suara Sita teman sejurusannya.

“Alah.. lo gak usah sok prihatin deh. Lo juga kebagian kan.. coba kalo gue gak berbaik hati. Mungkin lo udah cabut dari kampus ini.” Ujar Gina

“Iya.. gue akuin. Makasi deh kalo gitu. Eh!!! Harusnya gue makasihnya ke Galang ya. Ngapain juga ke elo.. yang sebenarnya otaknya bekerja kan Galang.” Sita menanggapi.

“Hahahaha....” mereka berdua tertawa senang. Sepertinya mereka senang telah berhasil memanfaatkan kepintaran Galang.

Bagaikan disambar petir Galang berdiri mematung di tempatnya. Nafasnya terasa sesak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dengan muka merah padam, Galang bergegas meninggalkan tempat itu. Niatnya yang semula ingin memberikan kejutan pada sahabatnya itu musnah sudah dari otaknya. Tak disangka, sahabat yang selama ini begitu dia sayangi, sahabat terbaik satu-satunya yang dia miliki ternyata hanya ingin memanfaatkan kepintarannya. Anggapannya salah selama ini, menganggap Gina mau bersahabat dengannya secara tulus. Mau menerima segala kekurangan Galang. Dari awal Galang sudah tekankan bahwa dia hanyalah orang biasa. Tidak pantas orang berkelas seperti Gina bergaul dengannya. Tapi saat itu Gina dengan segala kerendahan hati dan menampakkan ketulusannya tak menghiraukan semua itu. Tapi sekarang Galang akhirnya tau siapa Gina sebenarnya. Dia tidak lebih dari manusia bermuka topeng. Perih hati Galang tak tertahankan. Galang menyadari dia hanyalah anak kampung, anak dari kuli upahan yang bekerja di sawah orang, yang hanya cukup mencari makan sekali sehari.

Sejak hari itu, Galang tidak pernah peduli lagi dengan Gina. Galang berusaha menjauh. Jika kebetulan berpapasan, mereka bagaikan orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Bukannya dia mendendam, tapi luka yang ditorehkan sahabatnya itu terasa begitu menyakitkan. Dan Galang butuh waktu untuk mengobatinya. Sampai akhirnya Gina datang ke kontrakan Galang sepulang kuliah.

“Galang, akhir-akhir ini kamu aneh. Aku salah apa?” tanya Gina membuka suara. Tidak perlu menunggu lama, Gina mendapatkan jawaban dari Galang.

“Kamu tidak salah apa-apa. Aku yang salah, harusnya dari awal aku sadar bahwa aku tidak pantas bergaul dengan orang-orang kelas tinggi seperti kamu. Aku terlalu terlena dengan persahabatan yang kamu tawarkan sehingga aku tidak dapat melihat dengan hati, bahwa ternyata tidak ada kejujuran dan ketulusan disana.” Ujar Galang dengan tatap mata yang dalam. Tatap mata yang bagi Gina terasa bagaikan anak panah tajam menembus hatinya.

Gina terpaku di tempatnya. Tak ada satupun kata-kata yang mampu terucap. Bahkan menatap Galang yang berdiri di hadapannyapun dia tak berani. Untuk beberapa saat Gina terdiam, ada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Kemudian Gina segera meninggalkan Galang tanpa mampu menatap wajah sahabatnya itu walaupun untuk mengucapkan kata “maaf”. Karena dia sadar betul sesuatu yang menyesakkan dadanya itu adalah rasa bersalah.

Tidak terasa hari yang ditunggu-tunggu di kalangan mahasiswa itupun tiba. Hari ini Galang akan diwisuda. Ibu Bapaknya datang!!! Itulah kebahagiaan tak terkira yang dirasakan Galang. Ya, Galang memang bekerja dengan mati-matian tanpa menggangu perkuliahannya. Dia menyisihkan sedikit demi sedikit dari hasil kerjanya, hingga ia mampu mengirimi uang ke kampung untuk ongkos orangtuanya. Galang ingin Ibu Bapaknya menyaksikan saat namanya dipanggil dan naik ke atas podium. Saat dirinya meraih penghargaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi inilah hasil kerja kerasnya. Ya, Galang satu-satunya mahasiswa yang berhasil lulus dengan nilai Cum Laude. Galang juga mendapatkan tawaran bekerja serta beasiswa melanjutkan s2 tekniknya di Jerman. Karena itulah, pihak kampus memberikannya kesempatan khusus untuk berbicara di atas podium. Tidak terkira rasa bangga dan bahagia yang menyelimuti Ibu Bapaknya.

“oh Tuhan.. terimakasih. Galang hanyalah anak kampung. Dia hanyalah anak kampung..” sambil bercucuran air mata Bapaknya berkata lirih saat melihat Galang dengan gagahnya naik di atas podium. Hilang segala susah yang mereka rasakan selama ini.

“Saya persembahkan semua ini untuk orangtua saya. Saya tidak ada apapun yang saya miliki, saya tidak punya apapun. Saya hanyalah anak miskin, anak kampung yang kumuh. Tapi saya punya orangtua yang hebat. Beruntung saya punya orangtua yang mencintai saya dengan tulus. Menyayangi saya dengan sepenuh hati. Segenap jiwa dan raga mereka, selalu menyemangati saya agar jangan pernah menyerah. Satu hal yang tidak saya dapatkan dari siapapun...” Galang dengan suaranya lantang dan bersahaja bagai menghipnotis semua orang yang ada di auditorium itu. Tak sedikit yang mencucurkan air mata karena terharu.

“Terakhir, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada sahabat saya. Yang selama ini membantu saya. Darinyalah saya dapat belajar banyak tentang hidup dan arti sahabat. Terimakasih.” Lanjut Galang lagi.

Deg!!! Gina tak dapat menatap ke depan. Persendiannya dirasakan lemas dan lunglai. Wajahnya ditundukkan dalam-dalam. Rasa bersalah dan penyesalan yang sangat, menjalari aliran darahnya. Tanpa disadarinya butiran bening di sudut mata indahnya pun jatuh.

“Maafkan aku Galang.. Maafkan aku...” Bisik Gina dalam lirih.


Pariaman, 29 Juli’09