28 Agustus 2010

18 Agustus 2010

"Rindu"

"ya Allah, aku merindukanmu"
sungguh, sangat rindu

***

Suara Kibaran Merdeka





***





15 Agustus 2010

"Diary Biru Sita"

21 Juli 2003

Hingga akhirnya aku merasa kebosanan ini mulai menjalari pikiranku. Kau tahu? Keadaan ini sungguh tidak nyaman. Sama sekali tidak menyenangkan. Aku merasa tak ada apa-apanya. Merasa tak mampu lagi menegakkan kepala. Aku merasa terkurung dalam bingung. Seolah tak ada jalan keluar. Entah kemana perginya semangat yang menggebu itu. Semangat yang dulu kurasakan tak akan pernah mati. Tapi seolah lenyap. Hilang begitu saja. Tak berbekas tak berjejak. Tak tahu kemana harus melangkah.

Akhirnya, lagi-lagi kuputuskan untuk menuliskannya disini. Menuliskan segala beban yang memberatkan kepalaku. Kemarahan atas kebodohanku. Melampiaskan kekesalan atas keegoanku. Ketidakberdayaan atas sikap keras kepalaku. Untuk melepaskan lelahku. enyesalanku. Untuk berjalan meniti hari-hariku.

Kadang seolah ingin menghentikan waktu. Tapi apa hakku? Bukankah ada yang lebih berkuasa dariku? Aku tidak bisa terus-terusan begini. Tidak boleh. Aku tidak boleh hanya duduk diam, menunggu.

Ayolah Sita.. Lakukan sesuatu!!!

***

Sita kembali menggoreskan tinta hitam di lembaran ke 70 diary birunya, sambil berusaha keras menahan buliran yang mulai mengaca di bening matanya agar tidak memecah. Untuk kesekian kalinya. Dadanya terasa sesak. Entah apa yang akan diperbuatnya untuk melepaskan beban berat yang seolah-olah menghimpit pundaknya. Ini adalah bulan kedua ia berada di rumah dan tidak kemana-mana. Tak pernah ia merasakan kebosanan melebihi hari ini. Kejenuhan yang teramat sangat. Seolah ingin ia terbang tinggi meninggalkannya. Atau berlari kencang menjauhinya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Tak tahu harus melakukan apa. Hingga keputusannya tetap berakhir pada catatan-catatan kecil dalam diary mungilnya. Teman bercerita saat ia menumpahkan rasa sedihnya. Teman berkisah saat ia merasa lelah. Teman berbagi saat ia merasa sendiri. Terutama sejak dua bulan belakangan ini.

Bukannya Sita tak memiliki teman. Dulu ia punya banyak teman. Bahkan Sita termasuk murid yang pintar dan periang. Ia tidak pernah pilih-pilih teman. Sehingga siapapun akan senang bergaul dengannya. Bukan pula karena ia tak punya keluarga. Ia punya keluarga yang begitu menyayanginya. Tapi entah kenapa Sita tak bisa mengungkapkan perasaannya secara terbuka.

Suatu kali pernah Sita berniat menghubungi teman-temannya. Tapi belum sampai niat itu terlaksana, lagi-lagi Sita memendam keinginannya itu.

“Ahh.. Mereka tentu sedang sibuk. Mana sempat mendengar ocehan dari gadis lumpuh sepertiku. Jangan-jangan nanti aku malah membuat mereka terganggu.” Begitu pikir Sita dalam hati.

***

Sita, anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya, Bang Hamdan. Alumnus jurusan teknik sipil pada salah satu perguruan tinggi tekemuka negeri ini. Sejak mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri dua tahun lalu, tak pernah sekalipun ia pulang ke tanah air. Jangankan pulang, berkirim kabar saja setahu Sita belum ada.

Pernah mama mencoba bertanya ke tempat kuliahnya dulu. Tapi mama tak mendapatkan jawaban apa-apa. Mereka juga tidak mendapatkan informasi dari Hamdan lagi. Begitupun dengan teman-temannya semasa kuliah dulu. Mereka tidak tahu bagaimana kabar terakhir bang Hamdan. Ia seolah hilang di telan bumi. Mama sedih sekali dengan keadaan ini. Sita sempat berpikir. Apakah mungkin kakaknya membuat sebuah kejutan dengan pulang ke tanah air secara tiba-tiba suatu hari nanti. Entahlah.

Tapi inilah salah satu alasan yang membuat Sita tak mau berkeluh kesah dengan mamanya. Ia takut hanya akan menambah beban pikiran mama. Meskipun ia tahu, mama tak akan berpikiran demikian. Namun Sita takut sekali membuat mamanya khawatir. Sudah cukup selama ini ia menyusahkan mama.

***

20 Mei 2003

“Sita, kamu mau kemana?” Ujar mama mengagetkan Sita. Membuat langkah kaki gadis remaja itu terhenti. Mama yang sedang duduk di ruang tengah mengalihkan sejenak perhatiannya dari surat kabar yang ada di pangkuannya.

“mm.. mau ke rumah Nani ma.” Sahut Sita gugup. Ia tak menyangka mama ternyata berada di ruang tengah. Ia terlalu buru-buru sehingga tak sempat memperhatikan sekelilingnya. Seseorang dengan sepeda motor hitam mengkilat telah menunggunya di depan rumahnya.

“Malam-malam begini? Ini sudah jam delapan Sita.” Kata mama dengan pandangan mata penuh selidik.

“emm.. anu ma, Sita mau pinjam soal Matematika sama Nani, besok harus dikumpulin ma.” Jawab Sita

“Lho.. memangnya kamu tidak menulis soalnya di catatan kamu? Kenapa mesti pinjam sama Nani?”

“Sita lupa naroknya dimana ma. Sudah Sita cari-cari tapi nggak ketemu ma..” Jawab Sita pelan tanpa memandang ke arah mamanya.

“Ya udah, setelah dapat soalnya kamu cepat pulang ya. Ini sudah malam, tidak baik anak gadis malam-malam masih di luar.” Ujar mama akhirnya, meskipun hatinya tidak benar-benar yakin dengan apa yang dikatakan oleh anak gadis semata wayangnya itu.

“i..iya ma. Sita pergi dulu ya ma. Assalamu’alaikum..” Sita bergegas meninggalkan ruangan tanpa menunggu mamanya membalas ucapan salamnya.

“Wa’alaikumsalam..” Jawab mama seraya terus memperhatikan punggung Sita yang kemudian menghilang di balik pintu.

Mama kemudian bangkit dari duduknya. Ia menuju meja telepon yang berada tidak jauh darinya. Mengangkat gagangnya dan memencet beberapa nomor.

Tak lama menunggu, mamapun sudah tersambung dengan seseorang diseberang sana. Awalnya mama mengucapkan salam, berbasa-basi sejenak, lalu terlihat berbicara serius. Sesekali keningya berkerut. Dan akhirnya terdengar mengucapkan terimakasih, mengakhiri pembicaraan yang terjadi beberapa menit itu. Mama meletakkan gagang telepon pelan. Sejenak, iapun terdiam.

***

Mama bolak-balik menunggu Sita kembali. Sesekali dilihatnya jam dinding merah jambu di ruang tamu. Sudah jam sebelas sepuluh menit. Tapi anak gadisnya belum juga pulang. Mama beranjak menuju ruang tengah, lalu sebentar kemudian terlihat kembali lagi ke ruang tamu. Entah sudah berapa kali ia bolak-balik seperti itu.

Jam sebelas lewat tiga puluh menit. Terdengar derum suara motor berhenti di depan rumah. Disusul langkah kaki seseorang mendekati rumah. Lalu kembali suara motor itu menderum menjauh, pelan.

“Darimana saja kamu Sita?” Tanya mama dingin.

“Dari rumah Nani ma.” Jawab Sita singkat tanpa menoleh ke arah mamanya dan melangkah perlahan menuju kamarnya.

“Bohong kamu!” Suara mama menahan marah.

Sita tak mampu lagi melanjutkan langkahnya. Ia berhenti mendadak, seolah-olah ada sesuatu yang menggelayuti kakinya. Ia berdiri mematung.

Mama bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Sita.

“Mama mau kamu jawab dengan jujur. Apa benar kamu pergi ke rumah Nani?”

Sita sama sekali tak berani menatap mata mamanya. Kepalanya malah ditundukkan dalam-dalam. Tubuhnya mulai gemetar.

“Sudah berapa kali mama ingatkan. Jangan pernah sekali-kali kamu pergi dengan laki-laki yang tidak kamu kenal!” Kali ini mama tak dapat lagi menahan amarahnya.

“Kamu itu perempuan. Kamu harus bisa jaga sikap kamu. Anak gadis tidak boleh sembarangan keluar dengan laki-laki. Apalagi sampai larut malam. Ingat keselamatan kamu Sita!” Ujar mama berapi-api.

Memang, selama ini mama selalu mengingatkan Sita untuk tidak sembarang bergaul dengan laki-laki. Apalagi mama sangat menentang hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki ikatan yang sah. Ia selalu mewanti-wanti Sita. Mengingat anak perempuannya itu yang kian hari kian tumbuh menjadi gadis remaja.

“Tapi Sita pergi sama teman sekolah Sita kok ma..” Jawab Sita akhirnya. Matanya mulai memerah.

Mama terdiam tertahan. “Tidak ada alasan! Mama cuma tidak mau kamu celaka Sita!”

“Tapi Ryan nggak pernah nyelakain Sita ma! Dia selalu jaga Sita!” Ucap Sita mulai terisak

“Apa kamu berani jamin, suatu waktu dia tidak akan mencelakakan kamu? Apa kamu berani jamin, suatu waktu dia tidak akan berniat buruk terhadap kamu?” Tanya mama berapi-api tanpa mempedulikan tangisan Sita.

“Tapi ma..” Belum selesai Sita melanjutkan ucapannya, mama terlebih dahulu menyela ucapan Sita.

“Tidak ada tapi-tapian Sita!” Ujar mama singkat dan tegas.

Sita sadar betul, ia tidak mungkin membantah lagi kata-kata mamanya. Apalagi untuk hal yang satu ini. Mama benar-benar menentang hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan kecuali pernikahan. Berkali-kali, bahkan hampir setiap hari mama tidak bosan-bosannya mengingatkan Sita. Terutama sejak Sita mulai duduk di sekolah menengah. Mama sangat keras untuk masalah yang satu ini.

Sita kemudian berbalik cepat meninggalkan mamanya. Entah dari mana datangnya kekuatan yang membuatnya berlari kencang keluar dari rumah. Ia tidak menyadari bahwa sekarang telah berada di tengah jalan di depan rumahnya, bertepatan saat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sebuah pekikan panjang memecah kesunyian malam itu. Sita merasakan tubuhnya melayang, terhempas beberapa kali, lalu gelap.

***

23 Agustus 2003

“Maaa..!!! nama Sita ada ma.. nama Sita ada..!!” Sita tiba-tiba berteriak histeris dari kamarnya. Ia sedang asyik membolak-balik sebuah majalah bulanan nasional di atas kursi rodanya, sore itu. Tiba-tiba darahnya berdesir saat membaca salah satu halaman. Ia melihat namanya terpajang sebagai pemenang pertama lomba menulis cerpen yang diselenggarakan majalah tersebut kira-kira satu bulan yang lalu.

Mama yang saat itu sedang mengenakan pakaian sehabis mandi, kaget mendengar teriakan Sita. Ia bergegas menuju kamar putrinya. Senyum terindah Sita mengembang saat mama membuka pintu dan mendekat ke arahnya. Ia menyodorkan majalah yang dipegangnya. Tanpa sadar, mama meneteskan air mata lalu memeluk putrinya, lama.

Sita Hapsari Ningsih, juara pertama lomba penulisan cerpen tingkat remaja. Ia berhak atas hadiah sejumlah uang tunai, piagam ditambah bingkisan dari penyelenggara. Namun bukan itu satu-satunya yang membuat Sita bersorak bahagia. Ia begitu bersyukur saat mengetahui cerpennya akan dibukukan dan segera diterbitkan.

***

Ry, ternyata aku masih bisa berbuat sesuatu. Kau tahu? Rasanya bahagia.. sekali saat kita bisa berbuat. Melakukan sesuatu yang berarti. Membuat orang-orang yang kita sayangi tersenyum. Terima kasih Tuhan..

Mulai sekarang, aku janji. Aku akan berbuat lebih baik lagi. Aku akan buktikan. Walaupun lumpuh, aku masih punya mimpi ry dan aku akan mewujudkannya. Aku akan bagi semangat ini untuk mereka. Lewat tulisan. Ya! Lewat tulisan. Bahwa kekurangan bukanlah alasan bagi kita untuk tidak berkarya.

***

Perlahan Sita menutup diary biru mungilnya. Diary biru ke tiga yang dimilikinya.

***


--------------------

Diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen

yang diadakan oleh Sang Cerpenis dan VIXXIO


13 Agustus 2010

Langkah


1, 2, 3… beruntun
Langkah terus mengayun. Setapak demi setapak perjalanan tertempuh. Dengan langkah goyah, langkah tegap, terburu-terburu atau langkah penikmat. Meresapi, merasakan benar dengan naluri setiap perjalanan dan pergantian gulir waktu.

Alurnya maju. Bukan mundur. Karena kau hanya akan temukan alur mundur dalam dongeng-dongeng, cerita pengantar tidur.

***


__________________
Tulisan kecil untuk satu hal yang disebut
Perjalanan…






08 Agustus 2010

Beranda Surau Baruah


Lama aku terpaku di surau ini, suatu senja sehabis shalat magrib berjamaah. Aku baru saja kembali. Pulang ke kampung ini beberapa waktu lalu. Tetesan air hujan yang merintik begitu menyejukkan. Semilir angin segar menyusupi relung hati namun mampu membawaku ke angan, mengingat kembali kenangan beberapa musim yang lalu saat surau ini begitu hidup.

Bukan hidup dalam arti sebenarnya, tapi begitu hidup karena sebelum senja datang kita sudah berkumpul bersama, bercengkrama di beranda surau sambil menunggu “Ayah” mengumandangkan azan.

Kitapun berlarian menuju sumur, berebutan mengambil wudhu’. Membuat umi dan para anduang di surau itu selalu berteriak mengingatkan kita. Mungkin sebagian dari mereka jengkel melihat ulah kita yang selalu berebutan berwudhu’ setelah mendengar azan berkumandang. Sebagian lagi hanya tersenyum saja. Menjadikan surau kecil ini begitu ramai, meskipun saf pada barisan shalat tidak pernah melebihi baris pertama.

Begitu senangnya kita saat itu, kebiasaan yang selalu kita ulangi setiap hari. Canda tawa dengan wajah ceria namun kemudian khusyuk dalam shalat setelah mendengar ayah mengucapkan takbiratul ihram. Setelah itu tak ada lagi suara. Hanya suara ayah yang terdengar jelas mengimami kita. Sungguh tak terlupakan.

Ayah adalah satu-satunya orang yang menjadi imam kita di surau ini. Dia adalah ayah dari salah seorang teman sepermainan di beranda surau baruah, namun sekarang ia telah menjadi istri orang. Sebagai istri yang baik ia harus ikut suaminya setelah menikah.

Menikah di usia muda. Merantau ke negeri seberang. Salah satu teman kita pergi menjalani roda kehidupannya sendiri. Satu jamaah surau baruahpun berkurang.

***

Kubaringkan badan, menatap langit-langit surau yang sudah tampak lebih bagus sekarang. Tapi terasa lain. Anduang yang selalu datang ke surau untuk shalat berjamaah masih setia melangkahkan kakinya kesini walau langkahnya sudah tak secepat dulu, meski geraknya tak segesit dulu lagi. Tapi ia tetap kuat dan bersemangat untuk datang ke baruah walaupun harus melewati pendakian dan melalui pekuburan tua untuk dapat ikut dalam shalat berjamaah.

Semangat terpancar dari binar wajahnya. Sering kuperhatikan, dengan susah payah ia menopangkan kedua tangannya pada lantai tempat sujud untuk dapat kembali menegakkan badannya, atau saat mengangkat kaki dengan sisa-sisa tenaga untuk bisa kembali berdiri mengikuti shalat berjamaah sampai tahyat akhir dan mendengar ayah mengucapkan salam.

“Ah…!!! begitu sepinya surau ini sekarang. Tak ada lagi canda tawa di beranda, tak ada lagi cengkrama nan ceria yang saling berebutan mengambil ember untuk mendahului mengambil air wudhu’ setelah mendengar azan, sehingga yang kalah cepat akan berteriak tertahanAyo cepat! Cepat! Ayah sudah mulai!” lalu kemudian berlarian, bergabung di barisan terdepan. Barisan saf yang tak pernah lebih dari saf pertama.

Huffh..!!!” Aku masih saja terpaku.

Surau baruah ini begitu sepi sekarang. Kembali teringat di relung pikirku, setelah shalat magrib berjamaah kita akan mengaji bersama, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Atau langsung berbaring dan bercerita sambil menatap langit-langit surau yang sederhana. Bercerita tentang apa saja yang ada dalam pikiran kita saat itu. Cita-cita, harapan atau bahkan kenangan. Setelah isya usaipun, kita akan menyempatkan diri beberapa saat untuk sekedar duduk-duduk di beranda dan kembali bercerita. Bercerita apa saja.

***

Aku masih saja menatap langit-langit surau dan mencoba menikmati, mengingat kembali suasana saat aku tak sendiri disini.

“hmm... gimana ya kalo kita sudah besar nanti?” Ungkapan yang begitu saja keluar dari bibir-bibir polos dan masih mengiyang di telingaku.

“Nanti kalau kita sudah berpisah dan bertemu kembali, pasti akan bertanya seperti ini. Hey.. apa kabar? Gimana keadaanmu sekarang? Udah berapa sekarang anggotanya?” dan kitapun akan tertawa terkekeh-kekeh karena geli. Merasa itu menjadi suatu hal yang lucu suatu hari nanti sambil tetap memandang langit-langit.

Hoy... siapa yang mau main sepak sabuik?” Beberapa anak laki-laki kemudian berteriak. Kitapun segera berlarian keluar dan langsung ikut bergabung bermain sepak sabuik. Permainan khas anak-anak surau baruah sambil menunggu waktu shalat isya tiba.

Kita akan berhom-pim-pah. “Menang baaa...nyak!” ucap salah seorang anak laki-laki mengomandoi.

Sehingga beberapa orang yang kebetulan banyak memperlihatkan punggung tangan atau telapak tangannya, akan menang. Dan itu artinya, mereka akan bebas dari menjaga sabuik. Sampai akhirnya ada yang kalah. Lalu yang menang akan melempar sabuik sejauh-jauhnya.

Setelah itu yang kalah akan berlari mengambil sabuik dan sesegera mungkin meletakkan dalam lingkaran yang telah disepakati. Sebelum sabuik sampai di lingkaran, kita berpencar, berlarian mencari persembunyian. Di kolong surau, belakang rumah atau bahkan di kandang ayam di balik rumpun pisang.

Kita harus mencari tempat persembunyian yang aman dan meraba-raba dalam gelap sambil sesekali melongokkan kepala. Siapa tahu yang jaga sedang mencari persembunyian yang lain dan meninggalkan sabuik-nya. Sehingga kita bisa segera keluar, berlari dan berteriak riang. Menendang kembali sabuik di dalam lingkaran sekuat-kuatnya.

“Horeee...!!” Kitapun berteriak dengan suara kencang. Benar-benar menyenangkan.

Saat mulai duduk di bangku sekolah menengahpun, permainan itu masih sesekali kita mainkan, meski tak sesering sebelumnya. Karena kebiasaan itu telah berganti seiring bergulirnya waktu dan bertambahnya usia. Kita lebih suka bercerita di beranda. Beranda surau baruah.

Beranda ini jarang sekali sepi di waktu magrib menjelang isya, karena disanalah tempat favorit kita. Berkumpul bersama. Bercerita, sambil menunggu ayah mengumandangkan azan untuk melaksanakan shalat berjamaah. Bercerita apa saja.

***

“Aku rindu kalian! Rindu sekali!” Batinku. Rindu bisa berkumpul bersama-sama lagi. Aku rindu shalat berjamaah di surau baruah. Rindu bercerita di beranda surau.

Tapi sekarang, teman sepermainan itu tak ada lagi. Entah kemana. Mungkin mereka telah meninggalkan kampung. Menjalani kisah hidupnya masing-masing. Tak kulihat lagi teman sepermainanku di surau ini. Tak lagi kulihat.

***

Aku segera beranjak ke pintu surau. Saat kumandang azan Isya nanti, aku akan kembali.



Pariaman, Agustus 2009