01 September 2010

Cerita


Natasya bertanya pada bundanya, di suatu sore.

Natasya : bunda, kalau nanti Natasya udah besar, bunda mau Natasya jadi apa?

Bunda yang masih terpekur di atas sajadah birunya menatap buah hati kecilnya yang tiba-tiba menyandarkan tubuh mungilnya di lengan kanan bunda. Sang bunda terdiam sejenak sambil merangkul putrinya

Bunda: mmm... bunda mau Natasya jadi anak yang saleh

Natasya: kalau jadi anak saleh, apa bunda akan senang?

Bunda: tentu saja sayang. bunda akan senang.. sekali. karena bagaimanapun, hanya anak salehlah yang bisa membuat bunda bahagia (sahut bunda sambil tersenyum seraya terus merangkul lembut putri kecil semata wayangnya)

Natasya: kalau begitu, Natasya mau jadi anak saleh aja. biar bisa bikin bunda bahagia. besok, di sekolah, Natasya mau bilang sama teman-teman Natasya biar jadi anak saleh aja. biar mamanya juga bisa bahagia. sama kayak bunda. he.... (ujar Natasya kecil polos sambil memamerkan gigi-gigi kecilnya)

***



---------------------------------
Cerita kecil di atas mengingatkan saya saat ibu saya memaparkan harapan-harapannya. Harapan-harapan yang saat itu memberi corak pada hati polos belum terukir. Seperti kertas putih yang siap diberi warna, yang siap dilukis, menuliskan cerita.

Namun, seiring perjalanan waktu. kertas putih itu ternyata tak lagi senantiasa putih. berbagai corak perpaduan dari warna-warna menghiasinya. bercampur baur. membentuk kombinasi yang tak lagi terbaca. merah, kuning, hijau, bahkan hitam.

Keadaan masa pun ikut andil memberikan pengaruh akan warnanya, lingkungannya, pergaulannya, entah dari kiri, kanan, di hadapanatau belakangnya. terlalu kaget dan terpana menghadapi perubahan demi perubahan yang berjalan signifikan. perlu benteng kokoh untuk membuatnya tetap kuat di tengah hiruk pikuknya. dan benteng kokoh itu perlu ada di dalam hati.

Waktu pun terus merambat, jalannya tak selalu lurus mulus, terkadang terpeleset, salah, tak terhindarkan. tak sengaja membuat bunda menangis. menitikkan air mata beningnya, entah karena terluka, entah karena kecewa. namun harapannya tak pernah pupus. Ia selalu mengucap do'a khusus. Selalu membentangkan harapan putihnya. tak pernah berhenti. dan takkan berhenti. walaupun telah senja usianya.



-----------------
Terkadang, kita terlalu egois. hingga tanpa sadar, melukai hati lembut seorang perempuan yang sungguh berjasa sangat besar. tak pernah menuntut balas, tak pernah menuntut bayaran. Ia tulus ikhlas mengiringi setiap langkah tapak kaki.

Yang diharapkannya tidaklah muluk2. hanya do'a, seuntai do'a diiringi tingkah laku dan perangai yang memberikan kebahagian dan ketenangan dalam qalbunya.
Do'a tulus dari buah hati, sang permata kesayangannya.
sebagai lentera penerang, penyejuk jiwanya




"ya Allah, selagi nafas masih terhembus, izinkahlah aku membahagiakan bunda.."